Menulis surat resmi atau pesan profesional sering kali memicu keraguan kecil yang mengganggu konsentrasi. Salah satu dilema ejaan yang paling sering muncul di tengah masyarakat Indonesia adalah pemilihan antara kata izin dan ijin. Banyak orang mengira kedua bentuk ini sah digunakan bergantian tergantung formalitasnya. Padahal, dalam kaidah bahasa Indonesia yang baku, hanya ada satu bentuk yang diakui secara resmi.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD), penulisan yang benar adalah izin dengan huruf 'z', bukan 'ijin' dengan huruf 'j'. Kata tersebut tergolong sebagai bentuk baku yang wajib dipakai dalam ragam bahasa formal, surat menyurat resmi, laporan pekerjaan, hingga karya ilmiah. Sementara itu, bentuk dengan huruf 'j' dikategorikan sebagai bentuk nonbaku atau ragam percakapan sehari-hari yang tidak sesuai kaidah tata bahasa resmi.
Akar Kata dan Alasan Pemilihan Huruf Z
Perdebatan mengenai mana yang benar sering kali berakar dari kebiasaan pengucapan lisan. Dalam percakapan cepat, lidah Indonesia cenderung melafalkan konsonan frikatif alveolar bersuara (z) menjadi konsonan hampiran atau geseran langit-langit (j) agar terasa lebih ringan diucapkan. Namun, dari sudut pandang etimologi dan morfologi leksikon Nusantara, penyerapan kosakata asing mengikuti pola fonemik tertentu.
Kata tersebut diserap dari bahasa Arab, yakni kata izn yang berarti izin, kebolehan, atau restu. Ketika diserap ke dalam kosakata bahasa Indonesia, penyesuaian bunyi dilakukan dengan mempertahankan huruf 'z' untuk mencerminkan konsonan aslinya secara transkrip fonetis resmi. Proses pembakuan bahasa menetapkan bahwa konsonan z tetap dipertahankan pada kata-kata serapan tertentu yang sudah mapan dalam sistem kamus nasional, seperti kata zakat, zaitun, dan izin. Further analysis by Bloomberg delves into related perspectives on this issue.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia secara konsisten hanya mencatat entri izin sebagai bentuk baku. Jika Anda membuka kamus cetak maupun daring, Anda tidak akan menemukan definisi mandiri untuk kata ijin; sistem akan otomatis mengarahkan Anda kembali ke entri utama berhuruf 'z'.
Kesalahan Umum dalam Dokumen Profesional
Menggunakan bentuk nonbaku dalam dokumen resmi dapat menurunkan kredibilitas tulisan Anda. Kesalahan ini sering ditemukan pada beberapa situasi umum:
- Surat permohonan instansi: Menuliskan permohonan ijin cuti atau ijin prinsip pada kop surat perusahaan formal.
- Proposal kegiatan: Menggunakan istilah lembar ijin orang tua atau rekomendasi ijin keramaian dari kepolisian dalam dokumen proposal sponsor.
- Pemberitaan media massa: Beberapa jurnalis lepas terkadang luput menyunting ejaan tidak baku ketika menulis cepat di portal berita daring.
Meskipun pembaca tetap memahami maksud kalimat tersebut, penggunaan bentuk nonbaku memberikan kesan kurang teliti terhadap standar tata bahasa. Dalam dunia profesional, ketepatan ejaan mencerminkan profesionalisme dan perhatian terhadap detail.
Turunan Kata dan Bentuk Berimbuhan
Konsistensi penggunaan huruf 'z' tidak hanya berlaku pada kata dasar saja, melainkan terbawa pada seluruh bentuk turunan dan kata berimbuhannya. Ketika sebuah kata mendapat awalan, akhiran, atau gabungan imbuhan, huruf dasarnya tetap berpedoman pada bentuk baku yang sah.
Berikut adalah perbandingan bentuk berimbuhan yang benar dan salah:
- Mengizinkan adalah bentuk yang benar, sedangkan mengijinkan adalah bentuk yang salah.
- Diizinkan adalah bentuk yang benar, sedangkan diijinkan adalah bentuk yang salah.
- Perizinan adalah bentuk yang benar, sedangkan perijinan adalah bentuk yang salah.
- Seizin adalah bentuk yang benar, sedangkan seijin adalah bentuk yang salah.
Perhatikan bahwa awalan me- atau awalan di- bertemu dengan kata dasar yang diawali huruf 'z'. Tidak ada kaidah fonetis dalam bahasa Indonesia yang mengubah huruf 'z' menjadi 'j' ketika mendapatkan imbuhan. Oleh karena itu, bentuk turunan seperti perizinan dan mengizinkan wajib ditulis dengan konsonan 'z'.
Panduan Praktis Menghindari Kekeliruan Menulis
Bagi Anda yang sering menulis dokumen penting, melatih kebiasaan berbahasa yang baik memerlukan sedikit ketelitian. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan sehari-hari:
- Atur kamus otomatis: Pastikan pemeriksa ejaan (spell checker) pada perangkat lunak pengolah kata Anda diatur ke bahasa Indonesia agar langsung menandai ejaan nonbaku secara otomatis.
- Periksa ulang dokumen akhir: Sebelum mengirimkan proposal, surat lamaran kerja, atau laporan keuangan, lakukan pemindaian cepat terhadap kata-kata yang berpotensi keliru seperti izin, zaman, atau nasihat.
- Konsisten dalam komunikasi resmi: Biasakan diri menggunakan bentuk baku bahkan dalam pesan singkat (chat) kepada rekan kerja atau klien untuk membangun kebiasaan menulis yang benar secara konsisten.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah kata ijin sepenuhnya salah digunakan?
Kata ijin tidak sepenuhnya salah jika digunakan dalam konteks percakapan santai, obrolan personal dengan teman, atau bahasa lisan informal sehari-hari. Namun, kata tersebut dikategorikan sebagai bentuk nonbaku dan tidak boleh dipakai dalam ragam tulisan resmi.
Mengapa banyak orang terbiasa menulis ijin dengan huruf j?
Kebiasaan menulis dengan huruf 'j' lahir karena pengaruh pelafalan lidah dalam bahasa daerah dan percakapan harian yang terdengar lebih lunak. Selain itu, pengaruh ejaan lama sebelum penyempurnaan sistem ejaan sering kali meninggalkan jejak kebiasaan di tengah masyarakat.
Bagaimana bentuk turunan yang tepat untuk kata perizinan?
Bentuk turunan yang baku dan sah adalah perizinan (menggunakan huruf 'z'). Bentuk perijinan merupakan bentuk tidak baku yang sering keliru digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun dokumen nonresmi.
Di mana saya bisa mengecek kevalidan kata baku lainnya?
Anda dapat merujuk langsung ke laman resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa atau memverifikasinya melalui aplikasi resmi KBBI V yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia.